Ridla Terhadap Takdir Allah

Ridla Terhadap Takdir Allah

 

Muhammad Ali Chozin

 

Banyak orang yang salah mendefinisikan takdir. Mereka mengartikan takdir dengan suatu ketetapan Tuhan atau ketentuan Tuhan. Dengan begitu, seolah-olah mereka memahami bahwa takdir merupakan suatu ketetapan atau ketentuan yang sudah final dan tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi. Pendapat seperti itu tidak salah namun juga jangan langsung menyalahkan.

Secara bahasa, memang benar bahwa takdir adalah suatu ketentuan atau ketetapan dari Allah, namun hal itu tidak berarti serta merta tidak bisa diubah atau diperbaiki kembali. Kalau begitu, takdir ada berapa macam? Setahu saya, takdir terbagi menjadi tiga macam, yaitu takdir yang bisa diubah dan diperbaiki, seperti hidup miskin, bodoh dan terbelakang; dan takdir yang tidak bisa diotak-atik lagi, seperti menjadi seorang perempuan atau laki-laki. Selain dari keduanya, akan melahirkan takdir lain yang diakibat karena ulah atau tindakan kita sendiri yang ceroboh atau berasal dari orang lain yang tidak disangka-sangka, seperti tangan atau kaki buntung, bercerai dengan suami atau istrinya, dan membunuh saudara karena rebutan harta waris atau karena cemburu.

Dalam kategori takdir pertama, kita bisa mengubah nasib kita dengan kerja keras, membaca, menulis, dan belajar dengan sungguh-sungguh, serta memanfaatkan kemampuan, bakat, ide yang dimiliki dan memanfaatkan serta memberdayakan sumber daya alam secara maksimal tanpa harus merusak ekosistemnya. Dan jangan sekali-kali menganggap bahwa miskin itu sudah takdir sehingga malas untuk bekerja, bodoh itu sudah takdirnya sehingga malas untuk belajar, dan juga terbelakang itu nasibnya sehingga malas untuk berkreasi dan berwirausaha. Lihatlah sekelilingmu yang kaya dan hidup dengan harta yang penuh keberkahan, dan keluraga yang sakinah. Pakailah prinsip, jika mereka yang sama-sama manusia, hidup di Indonsia, makan nasi, dan minum air bisa seperti itu, kenapa saya tidak? Oleh karena itu, bangkit dan jauhi kemalasan dan kebodohan  yang berkedok takdir.

Untuk kategori yang kedua, takdir sudah paten dan tidak bisa diubah. Seperti seorang perempuan mengandung, melahirkan, menyusui anak, haid, dan nifas, sedangkan laki-laki tidak mengalami itu semua. Hal ini mengakibatkan berbeda dalam hukum baik dari masyarakat, maupun agama. Tapi apakah semuanya berbeda? Tidak. Ada beberapa hak dan kewajiban yang kadang saling mengisi atau bergantian, seperti mengasuh dan mendidik anak, menjadi pemimpin atau presiden, dan mendapatkan perlakuan yang sama di mata negara. 

Sedangkan kategori yang terakhir, merupakan suatu takdir yang harus dijalani karena ulah kita sendiri atau orang lain. Untuk memasuki kategori ini, banyak orang yang mengawalinya dengan tangisan dan penyesalan. Namun, itu jangan dijadikan luapan emosi sehingga kita berpangku tangan, sehingga tidak bisa lagi memanfaatkan potensi dan sumber daya lain yang dimiliki. Jangan berputus asa ketika kita tidak lagi memiliki tangan atau kaki, mata yang buta, dan mulut yang tidak bisa bicara. Yang mengakibatkan hidup kita sebagai pengemis yang mengeruk keuntungan dari kelemahan-kelemahan yang ada. Jadilah sang juara, pelopor, pencetus, dan pendiri untuk organisasi-organisasi yang menampung orang-orang yang senasib, sehingga yang lain menjadi termotivasi dalam mengarungi kehidupan di alam yang penuh dengan perjuangan ini.    

Rasulullah bersabda, “Dimanapun kamu berada dan apapun kondisimu, janganlah berhenti merasakan kehadirat Allah dalam dirimu, dan lakukan amal kebaikan disaat kamu merasa telah berbuat kesalahan, karena kebaikan seseorang akan menghapus dosa yang lain dan berbuat baiklah kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi)

Sepatutnyalah, seorang Muslim senantiasa menaati perintah Tuhannya, ridla dengan apa yang telah menjadi ketetapan dan takdir-Nya. Karena ridla terhadap takdir merupakan tanda keimanan, ketakwaan, dan kesalehan seseorang yang paling sempurna. 

Rasulullah bersabda, “Ingat, amal-amalmu hanya untuk Allah; amal yang dilakukan dengan sia-sia dan diketahui orang banyak yang pada akhirnya akan membawa celaka pelakunya.”

Dalam hadits lain, Rasulullah mengatakan, “Sungguh menakjubkan urusan orang muslim. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak terdapat pada siapapun melainkan pada seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kelapangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika mengalami kesempitan, maka ia bersabar, dan itu mendatangkan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, maka semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kelapangan, maka lisannya melantunkan puji syukur kepada Tuhan yang telah memberikan nikmat dan rahmat. Yang tergolong hamba yang bersyukur dan taat. Dan jika ia didera dengan kesempitan dan kesusahan, maka ia bersabar. Yang tergolong hamba yang sabar, selamat, dan beruntung.

Dengan iman yang memenuhi relung hati, menjadi orang yang tabah dalam menghadapi berbagai benturan hidup, kesulitan yang mendera, dan rintangan yang menyapa. Ia hadapi dengan hati tenang dan ridla dengan ketentuan Allah. Ia tetap sabar, kemudian menjadikan shalat dan silaturrahmi sebagai penolongnya. Wallahua’lam[]   

 

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pribadi Yang Luhur

Pribadi Yang Luhur

 

Muhammad Ali Chozin

 

Pribadi Nabi Muhammad SAW sungguh menarik hati seluruh manusia yang mengakui kebenaran, kepribadian Rasulullah jelas diterangkan dalam al-Qur’an surat Ali Imran [3] ayat 159: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu (Muhammad) bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Dari kutipan ayat di atas dapatlah disimpulkan bahwa, Nabi Muhammad adalah utusan Allah Yang Maha Luhur. Keluhuran budi pekertinya membuat lawan maupun kawan terkesima dengan akhlaknya. Beliau juga disebut sebagai al-Qur’an yang berjalan. Oleh karena itu, berbuatlah sesuai dengan apa yang Nabi Muhammad SAW. lakukan. Di bawah ini ada beberapa sifat luhur Nabi Muhammad SAW, antara lain:

      Orang yang paling sabar, paling berani, paling adil dan paling menjaga diri.

      Tidak pernah tangan beliau menyentuh tangan wanita yang bukan muhrim, bukan istri, maupun bukan budaknya.

      Mengasihi umat dan menyayangi keluarga dan sahabatnya.

      Orang yang pemurah hati, suka bersedekah dengan apa yang dia miliki.

      Melakukan aktifitas keperluannya sendiri, seperti menjahit bajunya dan menambal sandalnya dan mengurus kepentingan keluarganya.

      Sangat pemalu – tidak tetap pandangannya pada muka seseorang.

      Suka menghadiri undangan dari siapapun baik bangsawan maupun orang biasa.

      Menerima hadiah dan membalas hadiahnya.

      Tidak memakan harta sedekah.

      Tidak sombong.

      Memarahi dan melaksanakan kewajibannya atas dasar kebenaran.

      Suka menolong orang lain dengan tidak memandang status sosialnya.

      Rajin berpuasa dan tidak makan secara berlebihan.

      Santun dan menikmati makanan yang ada di hadapannya.

      Lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri.

      Tawadhu’, bersahaja, dan tenang.

      Lebih mengutamakan urusan akhirat daripada dunia, tapi tidak melepaskan urusan dunia dengan sia-sia, justru beliau menyeimbangkan kedua urusan tersebut hanya untuk mencari keridhaan dari Allah semata.

      Berpakaian sederhana, rapih, bersih, dan tidak menampakkan sesuatu yang mewah.

      Mengunjungi orang sakit dan orang meninggal.

      Menyukai wangi-wangian.

      Duduk dan makan bersama orang-orang miskin dan berbuat baik dengan kaum bangsawan.

      Memuliakan orang-orang yang berakhlak baik dan tidak menistakan orang-orang yang berkelakuan jahat.

      Bergurau/tersenyum dan tidak mengatakan sesuatu yang sia-sia dan bohong.

      Tidak takut kepada raja karena kekuasaannya.

      Ummi dan hafiz/paling fasih/merdu membaca Al-Qur’an/bahasa Arab.

      Tidak pernah mencaci, memaki, mengutuk, memfitnah, mengumpat, menganiaya, iri, dengki, tamak terhadap siapapun, baik kepada sahabat maupun musuhnya.

      Tidak memukul kecuali di atas jalan Allah SWT, bukan pedendam, dan tidak memutuskan tali silaturrahim.

      Paling kuat ibadahnya, paling berilmu/arif, paling banyak taubat dan syukurnya.

      Memuliakan tamu dan tetangganya.

      Berdiam diri dengan tidak melakukan sesuatu yang tidak disukainya.

      Pembela wanita

      Suka menasihati  

Dari sekian banyak sifat luhur tersebut, adakah sifat yang kita lakukan setiap hari sebagai umat Nabi Muhammad SAW? Kita sering mengucapkan kata ’sunnah rasul’, namun kita tidak melakukan apa yang menjadi sifat keseharian beliau. Pantaskah kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW, namun salah satu dari sekian banyak sifatnya tidak kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari?

Dalam diri manusia ada dua sifat, yaitu sifat terpuji dan sifat tercela. Dari kedua sifat tersebut, kita bisa menilai bahwa orang tersebut jahat atau baik. Lingkungan dan kesempatan merupakan unsur yang paling penting dari seseorang untuk berbuat sesuatu, entah itu baik maupun jahat, walaupun sebelumnya kita tidak berniat melakukan hal tersebut. Seperti contohnya, seorang yang ahli ibadah hidup bersama dengan perempuan cantik dalam satu bangunan. Pada awal-awalnya mungkin si abid kuat untuk tidak melakukan perbuatan tidak senonoh tersebut, namun lama-kelamaan ketika situasi dan kesempatan berpihak padanya, iapun sebagai lelaki yang normal akan merasakan kenikmatan sesaat tersebut. Yang pada akhirnya, ibadahnya hancur gara-gara perbuatan yang telah dilakukannya dalam waktu sesaat tersebut. Disinilah kecerdikan syetan dalam memperdaya keturunan Nabi Adam AS. untuk menjadi temannya di neraka selama-lamanya. Kejadian di atas merupakan peristiwa yang mengakibatkan orang terjerumus ke dalam perbuatan tercela hanya karena adanya kesempatan yang memihaknya.           

Namun, ada juga kesempatan yang memihaknya merubah dari perbuatan tercela menuju perbuatan terpuji. Dalam sejarah, kita telah mengetahui proses masuk Islamnya Bilal bin Rabah. Bilal adalah budak Umayyah yang kemudian dibeli oleh Abu Bakar ash-Shidiq dan langsung dibebaskannya.

Bilal memeluk Islam karena panggilan hatinya. Ia meyakini bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. merupakan ajaran yang bisa membawanya kepada kebahagiaan akhirat kelak. Statusnya sebagai budak atau hamba sahaya tidak melunturkan semangatnya untuk menjadi pengikut setia Rasulullah.

Keislaman Bilal harus dipertaruhkan dengan siksaan dan ancaman yang harus diterimanya. Ia mengetahui kalau tuannya, Umayyah tidak akan merestui dirinya memeluk ajaran yang dibawa oleh Muhammad.

”Bilal kenapa kamu masuk Islam? Bukankah aku yang memberimu makan, minum, dan pakaian?” Tanya Umayyah dengan membentak setelah mengetahui bahwa budaknya telah masuk Islam.

”Benar Tuanku, hamba telah mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah.” Jawab Bilal dengan suara lirih dan tegas.

”Tidakkah kamu tahu bahwa akulah pemilik jiwa dan ragamu. Aku yang telah membeli dan merawatmu hingga sekarang!”

”Benar Tuanku, hamba memang budak tuan. Raga hamba adalah milik anda dan akan tunduk pada perintah anda, tapi jiwa dan ruh hamba tidak bisa dikuasai oleh siapapun termasuk tuan, jiwa dan ruh hamba tidak bisa digantikan oleh  materi apapun.”

Mendengar jawaban Bilal yang keras kepala, Umayyah sudah tidak sabar lagi untuk menyiksanya dengan siksaan yang sangat pedih. Bilal tidak gentar dengan ancaman Umayyah. Islamnya sudah menyatu dalam hati dan jiwanya. Umayyah membawanya ke padang pasir yang panas dengan terik matahari yang membakar. Diletakkannya Bilal di atas panasnya padang pasir dengan kepala menatap matahari langsung dan di atas badannya ditaruh batu dengan ukuran yang sangat besar. Bilal merasakan siksaan tersebut setiap hari. Ia pingsan menahan siksaan berat tersebut. Namun, tidak menggoyahkan keimanannya.

Suatu hari Abu Bakar melintasi padang pasir yang biasa Umayyah menaruh budaknya yang menyeleweng dari Latta, Manat, dan Hubal, Tuhannya. Dibelinya Bilal dengan harga yang telah disepakati kedua belah pihak. Lalu Abu Bakar berkata kepada Bilal: ”Engkau telah bebas karena telah mempertahankan keyakinanmu itu.” Setelah bebas dari statusnya sebagai budak, Bilal dikenal sebagai muadzin pertama dalam sejarah Islam.

Dari kedua cerita tersebut, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa kita tidak akan mengetahui jalan hidup kita, apakah berakhir dengan husnul khâtimah atau sû’ul khâtimah? Oleh karena itu, kita harus menerapkan sifat luhur Nabi Muhammad SAW. sebagai pedoman hidup kita sehari-hari dalam keadaan dan situasi apapun tanpa mengeluh dan membatasinya demi kepentingan sesaat.

Dari situlah, kita mengetahui bahwa manusia memiliki beberapa tingkatan dalam bersikap. Ada berapakah tingkatan sikap manusia itu?

Sikap manusia mempunyai dua tingkatan, yaitu tingkat manusia umum dan tingkat manusia istimewa. Sikap yang umum, prinsipnya adalah ”lakukan seperti apa yang telah diperlakukan kepadamu.” Sikap semacam itu adalah ”sikap munafik”. Sebab, orang yang memiliki sifat itu hanya mampu menanggapi perbuatan orang lain pada dirinya seperti apa adanya; mereka akan menjauhi orang yang merugikan, akan menyakiti hati orang yang melukai hatinya, dan menyakiti orang yang melukai mereka.

Sedangkan tingkat sifat yang lebih tinggi, yaitu berdasarkan ”lakukan apa yang dapat kamu lakukan”. Orang yang berfikir seperti itu akan memperlakukan kawan atau lawan dengan sikap yang sama, tidak peduli apa yang telah mereka lakukan terhadap dirinya. Mereka menyukai kedamaian. Bahkan, orang-orang yang yang telah merugikan dirinya, mereka selalu berbelas kasih. Begitupula terhadap teman yang telah mencelakai kita. Mereka juga sabar dalam menghadapi orang-orang yang memfitnahnya. Pada tingkat inilah, Nabi Muhammad SAW berada.

Suatu ungkapan yang menggambarkan kepribadian Nabi, ”Jangan pernah merendahkan harkatmu dengan mengatakan pada orang lain bahwa kalau kamu berbuat baik padaku, maka aku akan berbuat baik padamu. Dan bila kamu berbuat jahat, maka aku akan membalasmu lebih buruk lagi. Sebaiknya biasakanlah dirimu berbuat baik pada orang yang berbuat jahat padamu dan jangan menyalahkan orang yang mencelakaimu. Bergandeng tanganlah dengan mereka yang meninggalkanmu, maafkan mereka yang telah merugikanmu, dan tetap santun pada mereka yang memfitnahmu.

Sekarang timbul pertanyaan dalam benak kita, apakah kita bisa berbuat sesuai dengan apa yang telah Nabi Muhammad SAW ajarkan? Walahua’lam[]

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Penyampai Amanah

Penyampai Amanah

 

Muhammad Ali Chozin

 

Tahukah anda, apakah amanah itu? Apa manfaat menyampaikan amanah dalam kehidupan kita?

Untuk itu, mari kita pelajari terlebih dahulu tentang pengertian amanah tersebut. Dalam bahasa Indonesia, amanah yaitu sebuah titipan atau kepercayaan. Atau dengan kata lain amanah merupakan sesuatu yang dipercayakan atau dititipkan kepada orang lain untuk disampaikan atau dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan penuh kejujuran dan keikhlasan. Dengan begitu, amanah merupakan sesuatu yang harus kita sampaikan. Oleh karenanya, Kepercayaan merupakan sesuatu yang mahal harganya. Sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan materi. Dengan menyampaikan amanah, kita bisa membentuk kepribadian yang jujur dan bermoral tinggi.

Ketika seseorang menitipkan sesuatu kepada kita untuk disampaikan kepada orang lain, maka kita wajib menyampaikannya dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Saat ini, berapa banyak perbandingan antara orang yang amanah dengan yang tidak?

Memang, kita tidak bisa menilai orang dari bentuk fisik dan penampilan luarnya saja. Namun, kita juga harus menilai akhlak dan kepribadian atau gaya berbicaranya. Terkadang kita terpesona dengan penampilan dan bentuk fisik seseorang, sehingga kita langsung mempercayakan sesuatu yang berharga kepadanya. Akibatnya, tidak jarang mereka mengalami kerugian dan penyesalan yang tiada tara.

Kalau memang kita membutuhkan jasa orang lain untuk menyampaikan sesuatu, lebih baik kita menggunakan jasa lembaga yang sudah dikenal kredibilitas dan profesionalitasnya. Hal ini menandakan bahwa kita merupakan makhluk sosial, yang artinya, kita membutuhkan pertolongan maupun bantuan orang lain. Jangan percaya, kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa dia hidup tanpa bantuan orang lain.

Mari kita renungkan kehidupan kita sehari-hari, mulai dari bangun tidur hingga kita tidur kembali. Kita ambil contoh disaat kita makan. Nasi, sayuran, atau ikan yang kita makan berasal dari mana? Kita tidak mungkin menanam padi atau sayuran tanpa adanya suatu keahlian dan waktu yang cukup. Mustahil dapat menghasilkan hasil yang maksimal tanpa didukung oleh waktu dan keuletan. Belum lagi bumbu-bumbu yang membuat makanan tersebut menjadi sedap dan nikmat. Piring atau sendok yang kita gunakan. Dan masih banyak lagi kegiatan hidup kita sehari-hari yang baik secara langsung maupun tidak langsung membutuhkan jasa orang lain.  

Rasulullah bersabda, ”Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia tidak menepatinya, dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan menyia-nyiakan amanah, baik disengaja maupun tidak, apakah itu bukan termasuk ciri-ciri orang munafik?

Di era demokrasi, Indonesia menerapkan sebuah sistem pemilihan umum yang jujur, adil, dan bertanggungjawab. Jujur artinya berbuat dan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku tanpa ada penyelewengan-penyelewengan maupun perjanjian yang melukai proses demokrasi. Adil artinya bertindak sesuai aturan hukum tanpa harus memandang siapa yang berkuasa dan akibat dari keputusannya. Tapi, tetap berpegang pada hukum yang berlaku untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Sedangkan bertanggung jawab artinya bertindak sesuai dengan hasil keputusan bersama tanpa diiringi rasa benci, dendam dan kecewa. Memang, sudah sepantasnya kalau dalam sebuah perlombaan, kompetisi, ataupun semacamnya ada yang menang dan ada yang kalah. Dan biasanya, yang menang bersorak gembira, tapi yang kalah bertindak brutal dan anarkis. Untuk mengantisipasinya, negara harus melindungi hak-haknya sebagai warga negara, baik itu hak berpendapat, hak memeluk suatu agama, maupun hak untuk berserikat, berkumpul, dan berorganisasi. Kalau pesta demokrasi berjalan dengan adil, jujur, dan bertanggungjawab, maka insya allah pemimpin di masa yang akan datang akan berjalan sesuai dengan hasil kesepakatan yang berlandaskan peraturan yang berlaku.

Dalam pemilihan umum, baik pemilihan anggota dewan, presiden, gubernur, hingga ketua RT, mengadakan sebuah kampanye. Kampanye adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh partai politik atau calon yang bersaing untuk memperebutkan kedudukan dan mendapatkan dukungan dari masa pemilih dalam suatu pemilihan. Apa yang dilakukan oleh mereka dalam sebuah kampanye? Biasanya dalam sebuah kampanye, para calon mengutarakan visi dan misi kalau terpilih nanti. Kata-katanya biasanya berupa janji-janji untuk kesejahteraan rakyat, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, penegakan hukum secara adil, dan masih banyak lagi. Namun, apa yang terjadi setelah mereka menduduki jabatan yang dimaksud? Rakyat atau pemilih tetap pada kehidupannya seperti sedia kala, tanpa ada peningkatan kualitas kehidupannya, janji tinggal janji, dan hanya orang-orang yang ingat dan dekat kepadanyalah yang bisa menikmati janji yang pernah terlontar selama kampanye tersebut. Apakah mereka tidak menyadari, kalau jabatan adalah amanah? Dan barangsiapa yang menyepelekan amanah merupakan bagian dari orang munafik.      

Dalam sejarah Islam, sesudah Rasulullah wafat, para sahabat bingung untuk menentukan siapa pengganti beliau untuk memimpin mereka. Para sahabat yang kebanyakan adalah kelompok Anshar dan kelompok Muhajirin mengadakan musyawarah di balai pertemuan Bani Sâ’idah yang diketuai oleh Sa’d bin Ubaidah. Merekapun saling bertukar pendapat tentang kriteria pemimpin pengganti Rasulullah. Dalam perdebatan tersebut, Abu bakar menarik tangan Umar bin Khatab dan Abu Ubaidah, ia mengajak para sahabat untuk membaiat salah satunya untuk dijadikan sebagai pengganti Rasulullah. Namun, apa yang terjadi? Umar berkata di depan orang banyak, ”Hai kaum Anshar tidakkah kalian ketahui bahwa Rasulullah memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami shalat?”

”Kami tahu itu,” jawab mereka.

”Lantas siapa di antara kalian yang ingin melangkahinya?” tanya Umar lantang.

”Allah melarang kami untuk melangkahinya,” jawab mereka.

Umar langsung memegang tangan Abu Bakar dan berbaiat mendukungnya. Abu Ubaidah dan orang-orang Muhajirin yang lain mengikutinya, begitupula dengan orang-orang Anshar.

Pada keesokan harinya, di waktu fajar, Abu Bakar duduk di mimbar. Umar bangkit dan berbicara di hadapan majelis, mengajak mereka berbaiat kepada Abu Bakar, yang ia gambarkan sebagai yang terbaik di antara kalian, sahabat Rasulullah, ”salah seorang di antara dua orang yang berada di dalam gua.” (QS. at-Taubah [9]: 40). Ayat ini menunjukkan keutamaan Abu Bakar sebagai sahabat Nabi dalam suasana genting.  

Kemudian Abu Bakar memuji dan bersyukur kepada Allah dan berpidato di hadapan mereka: ”Aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian, tetapi aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku melakukan kebaikan, bantulah aku; dan jika aku melakukan kesalahan, maka luruskanlah aku. Bersungguh-sungguh kepada kebenaran adalah kesetiaan dan pengingkaran kepada kebenaran adalah penghianatan. Orang yang paling lemah di antara kalian akan menjadi kuat di sisiku, hingga aku serahkan haknya kepadanya, insya Allah; dan orang yang paling kuat di antara kalian akan menjadi lemah di sisiku, hingga kau ambil harta yang bukan haknya, insya Allah. Taatilah aku selama aku menaati Allah dan Rasul-Nya. Namun, jika aku tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada keharusan bagi kalian untuk taat kepadaku! Tegakkanlah shalat kalian, Tuhan merahmati kalian!”

Dunia memang berbeda, yang secara otomatis kehidupan dan masa pun berbeda pula. Sekarang, untuk memperoleh pemimpin yang amanah tidak seperti yang di lakukan oleh Umar dalam menunjuk Abu Bakar. Indonesia memiliki aturan tersendiri, yaitu dengan pemilihan umum yang demokratis, jujur, adil, dan bertanggung jawab. Di pentas demokrasi tersebut, kita dituntut untuk jeli memilih pemimpin yang jujur, amanah, tegas, adil, dan bertanggung jawab. Janganlah kita membeli kucing dalam karung. Kenalilah mereka secara baik-baik dengan cara yang elegan. Semoga kita dipimpin oleh pemimpin yang sesuai dengan keinginan masyarakat yang memilihnya. Wallahua’lam[]     

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Terpercaya

Terpercaya

 

Muhammad Ali Chozin

 

Pada usia Rasulullah SAW. 35 tahun, orang-orang Quraisy bermaksud merenovasi Ka’bah. Ketika akan dilangsungkan peletakan batu hitam (hajar aswad), mereka memperdebatkan orang-orang yang akan meletakkannya, bahkan hampir saja terjadi perkelahian. Perdebatan ini berlangsung selama empat atau lima hari. Akhiranya, dibuatlah kesepakatan bahwa yang berhak meletakkan batu tersebut adalah orang yang pertama memasuki masjid. Ternyata, Rasulullahlah orangnya. Mereka berteriak gembira: “inilah al-Amin, orang yang kami percaya.” Mereka kemudian menjelaskan maksud Nabi Muhammad SAW. untuk menggelar selendang dan meletakkan hajar aswad itu ke atasnya. Sesudah itu, kepada masing-masing perwakilan kabilah diminta memegang ujung kain tersebut dan mengangkatnya bersama-sama, “Silahkan masing-masing kabilah memegang ujung selendang itu.” Ketika telah sampai di tempat penyimpanannya, beliau kemudian mengambilnya dan meletakkannya di tempatnya. Dengan cara ini, kesulitan teratasi dan perenovasian Ka’bah dilanjutkan hingga selesai.

Dari proses penyelesaian yang damai itulah, Rasulullah SAW. diberi gelar al-Amin yang berarti yang orang yang dapat dipercaya. Gelar tersebut sangatlah agung pada saat itu. Namun, Rasulullah SAW. bisa  mendapatkannya. Bisakah kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW. mendapatkan gelar tersebut, atau setidaknya orang lain mempercayakan kita dalam menyelesaikan permasalahan di antara mereka? 

Pertanyaan tersebut sangatlah diperlukan di zaman sekarang ini. Kita harus yakin bahwa kita bisa menjadi orang yang dapat dipercaya oleh masyarakat sekitar. Kepercayaan merupakan sesuatu yang mahal. Jadi, harus bertanggungjawab terhadap kepercayaan yang telah diembannya.

Tidak sedikit orang yang diberi kepercayaan, namun mereka berbelok arah dengan apa yang dia katakan sebelumnya. Pantaskah kita mengaku sebagai umat Nabi, namun akhlak kita tidak mencerminkan kepribadian Nabi yang bergelar al-Amin? Memang, kita menyadari kalau kita jauh berbeda dengan Nabi, namun setidaknya kita telah mendengarkan cerita-cerita atau membaca buku-buku yang mengupas tentang kepribadian sang Nabi.

Dalam al-Qur’an surat al-Anbiya [21] ayat 107, berbunyi:  “Wahai Nabi! tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. “

Ayat di atas dengan jelas menerangkan tentang maksud kehadiran Muhammad di antara penduduk Arab pada saat itu. Beliau merupakan utusan Allah yang akan mendamaikan dunia dan membawa umatnya kejalan yang di ridhai oleh Allah SWT.

Dalam hal ini, kepribadian Rasulullah dibentuk sehingga bukan hanya pengetahuan yang Allah limpahkan kepada beliau melalui wahyu-wahyu Al-Qur’an, tetapi juga kalbu beliau disinari bahkan totalitas wujud beliau merupakan rahmat bagi seluruh alam. Beliau merupakan rahmatun muhdah yang berarti rahmat yang dihadiahkan oleh Allah kepada seluruh alam, ditambahkan juga bahwa tidak ditemukan dalam Al-Qur’an seorang pun yang dijuluki dengan rahmat, kecuali Rasulullah Muhammad dan juga tidak ada satu makhlukpun yang disifati dengan sifat Allah ar-Rahim kecuali Rasulullah Muhammad.

Julukan al-Amin kepada Rasulullah, bukan hanya karena sejarah renovasi ka’bah semata-mata seperti yang diceritakan di atas, namun dikarenakan sifat beliau yang tidak pernah berbohong, menepati janji, sampai-sampai berita apapun yang beliau sampaikan pasti dibenarkan oleh masyarakat.

Pada suatu saat, Rasulullah memanggil kaum Quraisy untuk berkumpul di Bukit Shafa untuk menyampaikan dakwahnya. Sebelum berpidato, beliau bertanya, “Wahai kaum Quraisy, jika hari ini aku sampaikan kepadamu bahwa musuh akan menyerang, apakah kalian percaya?” Mereka menjawab, “Ya, kami percaya.”

Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Sekarang, aku sampaikan kepada kalian berita tentang siksa yang menanti kalian di akhirat kelak.” Tiba-tiba Abu Lahab memotong dan berteriak, “Apakah untuk ini engkau kumpulkan kami, celaka engkau.” Kemudian dia menyuruh kaum Quraisy bubar dan pulang ke rumahnya masing-masing.

Dalam hal ini, Abu Lahab hanya menentang keyakinan tentang akhirat yang Nabi sampaikan dan bukan kejujuran Nabi. Abu Lahab mempercayai bahwa Muhammad tidak akan pernah berbohong. Namun, karena keangkuhan dan kedudukannya dalam kabilah, ia harus berkata bahwa itu merupakan suatu omongan yang mengada-ada. Ketika Nabi hijrah ke Madinah, beliau bertemu dengan penduduk Madinah yang telah memeluk Islam. Mereka begitu percaya kepada beliau, sehingga dipercaya sebagai pemimpin umat Islam di Madinah.

Sejalan dengan teladan yang diberikan, Rasulullah berkata, “Tidak ada (artinya) agama tanpa amanah.” Karena itu pula, beliau memiliki sifat amanah yang berarti sangat terpercaya baik dalam berbicara maupun dalam menyampaikan tugas kerasulannya. Wallahua’lam[]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hidup Selama-lamanya

Hidup Selama-lamanya

 

Muhammad Ali Chozin

 

Pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal 11 H atau bertepatan dengan 8 Juni 632 M, Nabi Muhammad SAW meninggal dunia. Para sahabat spontan tidak menerima akan berita wafatnya Rasulullah. Ketidakpercayaan mereka memiliki alasan yang kuat, karena pagi harinya, Rasulullah ikut berjamaah di mesjid.  

Setelah mendengar berita wafatnya Rasulullah, cepat-cepat Umar ke tempat jenazah disemayamkan. Ia tidak percaya bahwa Rasulullah sudah wafat. Ketika dia datang, dibukanya tutup mukanya. Ternyata, beliau sudah tidak bergerak lagi. Umar menduga bahwa Nabi sedang pingsan. Jadi, tentu akan siuman kembali. Umar sama sekali tidak mau mempercayainya. Ia keliru menafsirkan sebuah ayat Al-Qur’an, yang menurut pemahamannya, Nabi akan hidup lebih lama daripada mereka semua hingga datang generasi lain.

Kemudian, ia keluar ke mesjid bersama-sama sambil berkata: ”Ada orang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah SAW telah wafat. Tetapi, demi Allah sebenarnya beliau tidak meninggal, melainkan pergi kepada Tuhan, seperti Musa bin Imran. Ia telah menghilang dari tengah-tengah masyarakatnya selama empat puluh hari, kemudian kembali lagi ke tengah mereka setelah dikatakan dia sudah mati. Sungguh, Rasulullah pasti akan kembali seperti Musa juga. Orang yang menduga bahwa dia telah meninggal, tangan dan kakinya harus dipotong!”

Teriakan Umar yang datang bertubi-tubi ini telah didengar oleh kaum Muslim di mesjid. Mereka jadi seperti orang kebingungan. Kalau memang benar Muhammad telah berpulang, alangkah pilunya hati! Alangkah gundahnya perasaan mereka yang pernah melihatnya, pernah mendengarkan kelembutan tutur katanya, orang-orang yang beriman kepada Allah Yang telah mengutusnya membawa petunjuk dan agama yang benar! Rasa gundah dan kesedihan yang sungguh membingungkan, sungguh menyayat kalbu! Apabila Muhammad telah pergi menghadap Tuhan, sungguh membingungkan. Dan menunggu dia kembali lagi seperti kembalinya Musa, lebih-lebih lagi ini mengherankan.

Sementara mereka dalam keadaan bingung, tiba-tiba Abu Bakar datang. Ia segera ke Madinah dari Sunh setelah berita sedih itu diterimanya. Ketika dilihatnya kaum Muslimin demikian, dan Umar sedang berpidato, ia tidak berhenti lama-lama di tempat itu melainkan terus ke rumah Aisyah tanpa menoleh lagi ke kanan-kiri. Ia minta izin akan masuk, tapi dikatakan kepadanya, orang tidak perlu minta izin untuk hari ini.

Ketika ia masuk, dilihatnya Nabi di salah satu bagian dalam rumah itu sudah diselubungi dengan burd hibara (sejenis kain bersulam buatan Yaman). Ia menyingkapkan selubung itu dari wajah Nabi dan setelah menciumnya, ia berkata:  ”Alangkah wanginya di waktu engkau hidup dan alangkah wanginya pula di waktu engkau meninggal.”

Kemudian kepala Nabi diangkatnya dan diperhatikannya paras mukanya, yang ternyata memang menunjukkan ciri-ciri kematian.

”Demi ibu-bapakku. Maut yang sudah ditentukan Tuhan kepadamu sekarang sudah sampai engkau rasakan. Sesudah itu takkan ada lagi maut menimpamu!”

”Sabar, sabarlah Umar!” kata Abu Bakar setelah ia berada di dekat Umar. ”Dengarkan!”

Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah, Abu Bakar berkata: ”Saudara-saudara! Barangsiapa yang menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi, barangsiapa yang menyembah Allah, Allah hidup selalu tak pernah mati.”

Kemudian, Abu Bakar membacakan firman Allah: ”Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelum dia pun telah banyak rasul-rasul yang sudah lampau. Apabila dia mati atau terbunuh, apakah kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berbalik ke belakang, ia tidak akan merugikan Tuhan sedikit pun. Dan Tuhan akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imrân [3]: 144)

Umar juga turut mendengarkan tatkala dilihatnya orang banyak pergi ke tempat Abu Bakar. Setelah didengarnya Abu Bakar membacakan ayat itu, Umar langsung jatuh tersungkur ke tanah. Kedua kakinya sudah tak dapat menahan lagi, setelah ia yakin bahwa Rasulullah memang sudah wafat. Adapun orang banyak, yang sebelum itu sudah terpengaruh oleh pendapat Umar, begitu mendengar bunyi ayat yang dibacakan Abu Bakar, baru mereka sadar, seolah mereka tidak pernah mengetahui, bahwa ayat ini pernah turun. Dengan demikian, segala perasaan yang masih ragu-ragu bahwa Muhammad sudah berpulang ke rahmatullah, dapat dihilangkan.

Sudah melampaui bataskah Umar, ketika ia berkeyakinan bahwa Muhammad tidak mati, ketika mengajak orang lain supaya juga yakin seperti dia? Tidak! Para ilmuwan sekarang mengatakan kepada kita, bahwa matahari akan terus memercik sepanjang abad sebelum tiba waktunya ia habis hilang sama sekali. Akan percayakah orang pada pendapat ini tanpa ia ragukan lagi kemungkinannya? Matahari yang memancarkan sinar dan kehangatan sehingga karenanya alam ini hidup, bagaimana akan habis, bagaimana akan padam sesudah itu kemudian alam ini masih akan tetap ada? Muhammad pun tidak kurang pula dari matahari itu sinarnya, kehangatannya, dan kekuatannya. Seperti matahari yang telah melimpahkan jasa, Muhammad pun telah pula melimpahkan jasa. Seperti halnya dengan matahari yang telah berhubungan dengan alam, jiwa Muhammad pun telah pula berhubungan dengan semesta alam ini, dan selalu sebutan Muhammad SAW mengharumkan alam ini keseluruhannya. Jadi, tidak heran apabila Umar yakin bahwa Muhammad tidak mungkin akan mati. Dan memang benar ia tidak mati, dan tidak akan pernah mati.

Ada sebuah pribahasa yang cukup terkenal, yaitu ”harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan nama.” Pribahasa ini kemudian di praktikkan dengan acara ritual-ritual keagamaan seperti, tahlilan, peringatan 7, 40, dan 100 hari meninggalnya seseorang, dan haul. Ritual-ritual seperti itulah yang akan mengenang dan mengingat kembali jasa-jasanya selama hidup. Jadi, jangan malah menganggap ritual-ritual seperti itu bid’ah dan masuk neraka. Namun, hal ini sangat berbeda dalam rangka memperingati atau mengenang kehidupan antara Rasulullah dan umatnya. Dimanakah letak perbedaannya?

Rasulullah adalah orang yang diutus oleh Allah untuk membimbing kehidupan manusia ke jalan yang diridhai oleh Allah. Oleh karena itu, sudah jelas bahwa jalan hidup yang akan ditempuhnya telah diatur dan diarahkan oleh Allah. Maka, sudah sepatutnya kalau memperingati Rasulullah adalah dengan mengingat hari lahirnya. Tradisi tahunan dalam memperingati kehidupan Rasulullah ini kita kenal dengan istilah Maulid Nabi, yang kita peringati tiap tanggal 12 Rabiul Awwal, dan juga tanggal tersebut merupakan tanggal wafatnya Rasulullah. Sedangkan, kita sebagai umatnya, berbeda jauh dengan kehidupan beliau. Oleh karenanya, umat Muhammad yang ingin dikenang harus bekerja keras dengan sabar, rajin beribadah, tawakkal, ikhlas, jujur, dan tawadhu’ untuk bisa hidup sesuai dengan apa yang Allah ridlai. Maka, pantaslah kalau kita mengenang jasa-jasa hidupnya itu pada tanggal wafatnya. Peringatan ini kita kenal dengan istilah haul. Singkatnya, kita memperingati sifat-sifat terpuji Nabi di saat hari kelahirannya, yaitu Tradisi Maulid Nabi. Sedangkan umatnya, diperingati pada tanggal kematiannya, yaitu Haul. Namun, haul diperingati untuk orang-orang yang alim saja, seperti kyai dan ulama.

Sudah sewajarnya, kalau kita ingin dikenang orang, khususnya tentang kepribadian baik kita, maka kita harus melakukan kebajikan dengan ikhlas, yang insya Allah dengan begitu, mereka akan mengenang kita selamanya, yaitu dengan mengadakan haul di hari kematiannya. Dan janganlah merasa pesimis ketika di masa muda melakukan kejahatan, yang akibatnya, masyarakat tidak akan mengenang, malah membenci dan mengucilkannya. Tapi, percayalah hidayah Allah akan datang kapan saja dan dimana saja atas kehendak-Nya.

Marilah kita berdoa agar kita termasuk golongan orang-orang yang shalih dan shalihah yang mendapatkan husnul khatimah di akhir hayat kita. Amin. Wallahua’lam[]  

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Memanusiakan Manusia

Memanusiakan Manusia

 

Rasulullah Ali Chozin

 

Sebelum Islam datang, jazirah Arab dihuni oleh suku-suku yang senang berperang. Pertentangan berlangsung dari generasi ke generasi. Bahkan, ketika mencapai puncaknya, nyawa dan darah manusia tidak ada harganya. Kemusyrikan mewarnai kehidupan mereka. Ka’bah dipenuhi ratusan patung sesembahan. Mereka tidak segan-segan membunuh bayi perempuan hanya karena ingin harkat dan martabatnya tidak dilecehkan akibat menanggung aib keluarga. Masyarakat Arab telah jatuh pada tingkat yang terendah, feodalisme mencapai puncaknya, dan orang miskin dieksploitir dengan kejam. Tidak ada keadilan bagi yang lemah. Kekuasaan adalah kebenaran yang telah berlaku dimana-mana.

Dalam situasi kegelapan yang menyelimuti jazirah Arab saat itu, muncullah pelita kehidupan, yaitu lahirnya Rasulullah SAW. Belum pernah ada, baik sebelum maupun sesudahnya, seseorang yang berada dalam situasi yang kacau balau, tetapi berhasil membersihkan masyarakatnya dari berbagai macam kejahatan dan kerusakan moral, kecuali Rasulullah. Bahkan, masyarakat diberikan sebuah format baru dalam menata kehidupan yang lebih baik dan harmonis sehingga menjadi contoh bagi peradaban modern saat ini. Ajaran Rasulullah yang praktis telah merubah suku bangsa yang biadab menjadi beradab. Beliau membawa ajaran-ajaran yang bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman.

Islam adalah agama yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah SAW melalui kitab suci al-Qur’an. Yang meliputi aturan hidup yang sempurna dan Nabipun telah menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga membuat decak kagum dari para musuhnya. Rasulullah laksana sebuah batu karang berdiri di tengah hempasan gelombang perlawanan dan pada akhirnya memenangkan peperangan itu. Kesabaran, keluhuran budi, dan kemampuannya berorganisasi tidak ada tandingannya dalam sejarah umat manusia.

Misi Rasulullah bertujuan memberikan kemajuan kepada umat manusia dari cengkeraman perbudakan, baik secara mental maupun spiritual. Nabi kemudian mengangkat martabat manusia dan mempraktikkan suri teladan melalui ajaran persamaan, kebebasan, persaudaraan, dan keadilan. Landasan inilah yang melatar belakangi lahirnya Piagam Madinah di bawah naungan Negara Madinah. Nabi seorang yang berbudi luhur terbesar, yang telah membebaskan manusia dari belenggu ras, kasta, dan warna kulit. Semangat persamaan yang diajarkan telah melahirkan beberapa dinasti penguasa dari budak belian di negara-negara Islam. 

Selama hayatnya, Nabi telah melaksanakan tugas yang sangat berat. Yaitu mempersatukan suku-suku bangsa Arab yang suka berperang, membentuk mereka menjadi suatu kekuatan yang mendorong terciptanya revolusi terbesar dalam sejarah umat manusia, baik dalam bentuk materi maupun mental.      

Nabipun mengajarkan kepada umatnya agar berbaik budi kepada tetangga dan menghindari pertengkaran. Memperhatikan orang lain dengan penuh kasih sayang. Berbuat baik dan memaafkan orang yang telah berbuat jahat terhadap kita, dan mengucapkan salam serta mendoakan orang yang telah berbuat baik terhadap kita.

Wataknya yang sungguh-sungguh memiliki nilai sejarah. Sifat kemanusiaannya sederhana yang senantiasa minta dianggap biasa diantara manusia-manusia lainnya. Pandangannya realistis menghindari semua sifat mistik yang tidak masuk akal serta sangat demokratis. Daya imbauannya bersifat etis, sehingga semuanya itu menyatukan Rasulullah dengan dunia modern.

Ide kebebasan bagi semua manusia, ide persaudaraan antara umat manusia, ide persamaan antara umat manusia terhadap hukum dan pemerintahan yang demokratis dengan cara konsultasi dan hak pilih yang umum. Ide-ide tersebut mengilhami terjadinya Revolusi Perancis, Deklarasi Hak Asasi Manusia dan membakar semangat perjuangan bagi negara-negara yang terjajah oleh kolonialisme dan imprealisme. Semuanya merupakan ilham dan sumber utama di dalam al-Qur’an. Oleh karenanya, sangat mungkin sekali, tanpa lahirnya Rasulullah, kebudayaan Eropa dan Amerika tidak akan ada sama sekali. Dan dipastikan pula, orang-orang Arab tentu tidak dapat diperkirakan ciri-ciri yang telah memungkinkannya melebihi semua fase evolusi sebelumnya. Wallahua’lam[]           

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rumah Tangga yang Harmonis

Rumah Tangga yang Harmonis

 

Muhammad Ali Chozin

 

Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah binti Khuwailid sangat diberkahi dan penuh kebahagiaan, meskipun perbedaan umur mereka terpaut 15 tahun. Nabi Muhammad SAW menikah dalam usia 25 tahun, sedangkan Khadijah berumur 40 tahun dan berstatus sebagai janda yang kaya raya. Selain berperan sebagai istri yang baik, Khadijah juga menjadi sahabat bagi suaminya, tempat berbagi suka dan duka hingga pada tingkat yang luar biasa. Dalam pernikahannya bersama Khadijah, Nabi Muhammad SAW dikaruniai enam anak, yaitu Qasim yang meniggal dalam usia dua tahun, Zainab, Umm Kultsum, Ruqayyah, dan Fathimah; dan yang terakhir seorang putra yang tidak berusia panjang, Ibrahim.

Pada hari pernikahannya, Nabi Muhammad SAW. memerdekakan Barakah, budak setia warisan dari ayahnya. Pada hari yang sama, Khadijah menghadiahkan Muhammad, Zaid, salah seorang budaknya yang berusia lima belas tahun. Selanjutnya, mereka dinikahkannya. Pada suatu hari, Haritsah ayah dari Zaid mendapat kabar tentang anaknya berada di Mekkah, ia pun langsung berangkat bersama saudaranya Ka’b. Mereka menemui Nabi Muhammad dan memintanya agar diperbolehkan menebus Zaid dengan harga berapapun yang ia minta.

“Biarkanlah ia memilih, jika ia memilihmu, ia akan menjadi milikmu tanpa tebusan, namun jika ia memilihku, aku tidak akan menolak siapa saja yang memilihku,” Nabi Muhammad SAW kemudian memanggil Zaid dan bertanya: “Apakah kamu mengenal mereka?”

“Ya, mereka adalah ayah dan pamanku.”

“Kamu sangat mengenalku dan kamu telah menyaksikan perlakuanku kepadamu. Maka, pilihlah diantara aku dan mereka.”

“Aku tidak akan memilih siapapun selain engkau. Bagiku, engkau laksana ayah dan ibu.”

“Keterlaluan kamu, Zaid!” seru kedua orang Kalb itu. “Apakah kamu lebih memilih perbudakan daripada kebebasan? Apakah kamu lebih memilih dia daripada ayah, paman, dan keluargamu?”

“Begitulah” kata Zaid “karena aku telah menyaksikan dari beliau sesuatu yang membuatku tidak dapat siapapun selainnya.”   

Dalam al-Qur’an surat QS. ar-Rûm [30]: 21, Allah berfirman: “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Sungguh indah gambaran Rasulullah terhadap pasangan suami istri yang saling membantu dalam ketaatan. Keduanya selalu berbagi dalam kebaikan dan curahan rahmat Allah. Rasulullah bersabda, “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di tengah malam kemudian ia shalat, lalu ia membangunkan istrinya untuk shalat. Jika istrinya enggan, maka ia mengolesi wajah istrinya dengan air. Dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun di tengah malam untuk shalat, lalu ia membangunkan suaminya untuk shalat. Jika suaminya enggan, maka ia olesi wajah suaminya dengan air.” (HR. Abu Daud dan Hakim)

Pernikahan merupakan ikatan dua jiwa yang sangat kuat dan kokoh, yang disambungkan oleh Allah, agar keduanya menggapai ketenangan, kedamaian, ketentraman, dan kenikmatan yang halal. 

Suami istri harus sering berinteraksi dan berkomunikasi dengan cara yang ringan, toleran, dan harmonis. Sumber keharmonisan sebuah keluarga terletak pada seorang istri. Istri merupakan penyejuk mata, penghibur, sumber ketenangan dan tempat rehat bagi suami dalam rumah tangga. Dia juga sebagai penyubur cinta nan tulus suci serta payung kelembutan. Karena itu, Rasulullah bersabda “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri yang shalehah.” (HR. Muslim)

Ketika seorang istri menyadari bahwa dirinya adalah perhiasan yang terindah, maka ia harus mengetahui strategi cara memikat hati suaminya dan kemudian memenuhi hatinya dengan cinta. Dan begitupula suami yang merupakan kepala rumah tangga, yang memimpin roda rumah tangga secara berkesinambungan tanpa merasa dirinya adalah orang yang bisa berbuat sekehendaknya saja. Dengan begitu, pergaulan yang harmonis antara suami istri berjalan sesuai dengan kriteria keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah akan memperkokoh tiang rumah tangga dan terwujudnya kebahagiaan yang dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Ketika seorang suami dan istri merasa nyaman untuk tinggal di rumah, secara tidak langsung mereka membuat surga kecil yaitu keluarga yang nyaman, tentram, dan sejahtera.

Sebuah keluarga yang dibangun atas dasar keridhaan dari Allah, mereka akan langgeng baik dalam keadaan suka maupun duka. Seorang istri bukan hanya turut merasakan kebahagaian suaminya, namun juga ikut merasakan kesusahan, kesedihan, dan kesulitan yang sedang dihadapi suaminya. Begitu pula sebaliknya, seorang suami terhadap istrinya. Keduanya duduk berdampingan sambil mengungkapkan kata-kata lembut, menghibur, menyumbang pikiran yang matang dan benar, yang terikat karena jalinan hati dan cinta yang tulus suci.    

Berbahagialah seorang suami yang mendapatkan seorang istri yang patuh dan taat kepada perintah Allah dan suaminya, begitupula sebaliknya, berbahagialah seorang istri yang mendapatkan seorang suami yang bertanggungjawab terhadap diri dan keluarganya atas dasar ridla Allah, yang telah diatur dalam Islam.

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki keridhaan Allah dan rasul-Nya serta kesenangan di akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.” (QS. al-Ahzâb [33]: 28-29) Wallahua’lam[]

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment